Erix Soekamti dan Awkarin

Disclaimer: postingan ini dari mata seorang penikmat, penggemar feeds mereka di media sosial. Kemungkinan besar postingan ini bakal panjang, antisipasi biar ga bosen siapin cemilan, yes πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Berapa bulan belakangan siapa yang ga kenal Karin Novilda a.k.a Awkarin? Apalagi kalau yang aktif di Instagram atau Youtube pasti akrab dengan perempuan 19 tahun ini.

Muda, cantik (relatif dari siapa yang liat, sih), bertato, followers Instagram-nya banyak, subscribers Youtube-nya apalagi. Yang niruin cara ngomong, dandanan, cara berpakaiannya kebanyakan anak perempuan usia 12-16 tahun kurang lebih. 

Sedangkan Erix Soekamti adalah pentolan grup band Endank Soekamti, bapak dari Godblessyou dan Barakallah (nama anak2nya keren, ya? 😁😁) ini juga sama; followers banyak, subscribers bejibun. Kemana pun band ini manggung die hard fans-nya pasti nyamperin khusus untuk liat langsung performance mereka.

Gue sih emang penikmat karya Erix, tapi gue juga lumayan ngikutin apapun tentang Awkarin. Dan sebagai seorang emak beranak dua, di mana sekarang akses internet gila2an (walaupun koneksinya ga jarang bapuk dan lemot), gue dituntut untuk jadi emak yang bijak dalam memilih tontonan anak2 gue.

Miris ketika lo tau, anak kecil sekarang akses ke media sosial tanpa pendampingan khusus dari orang tua. Gue pikir karena gue tinggal di kota kecil (Gresik) yang lumayan sudah berkembang, hal2 tabu dan di luar batas norma yang biasa dihadapi anak di kota besar belum nyampe sini. Ternyata anggapan gue salah.

Beberapa waktu lalu, anak dan ponakan gue ikut program “Kids goes to office” yang diadain kantor nyokap. Karena nyokap kerja di BUMN bidang telekomunikasi, diundanglah bocah2 usia 6-10 tahun untuk dikenalkan dengan tools telekomunikasi antara lain telpon beserta jaringannya dan juga internet.

Ketika acara berlangsung, ada satu bocah yang keliatan bosan dan sibuk sendiri. Ketika ditanya kok ga merhatiin penjelasan dari kakak pembimbing, jawabannya bikin speechless orang tua sekaligus pegawai yang ikut mengawal bimbingan tersebut; dengan entengnya si bocah kelas 2 SD ini bilang “aku udah tau internet, aku di rumah punya laptop, ada tab juga. Ayo2, siapa yang mau tak ajak nonton film laki-perempuan telanjang? Sangar lho filmnya, ah-uh-ah-uh merem melek.”

Sontak salah satu pegawai senior naik pitam karena kaget dengan ucapan si bocah. Ibu pegawai keliatan panik dan nanya tau darimana soal film tersebut, lihat di mana, orang tuanya mana, nonton sama siapa, dan banyak lagi pertanyaan lain. Tapi yang lebih mengejutkan, dengan santainya si anak menjawab kalau orang tuanya yang ngasih fasilitas gadget karena ibunya adalah dosen, iya dosen. Dan ayahnya pegawai BUMN yang ada di rumah selepas maghrib. Si bocah ini tau film itu dari coba2, awalnya cuma nonton kartun via Youtube, lalu tanpa sengaja nge-klik video lain yang ga ada hubungannya dengan kartun, hingga akhirnya sengaja nyari video lain karena kadung tau lalu penasaran dengan video dewasa lainnya.

Lain cerita, gue diceritain sama terapis pijet yang biasa gue panggil ke rumah, kalo ada kejadian di sekolahan anak customer-nya yang lain, temen si anak ke-gap di kamar mandi lagi berduaan dan sedang ciuman, celana si anak cowo udah di lepas. Ini dilakukan sama anak kelas 4 dan 5 SD yang kata terapis pijetku, mereka pacaran dan dilakukan pada saat jam pulang sekolah, dan kedua anak ini telat dijemput orang tuanya.

Internet dan dunia maya itu luas. Seluas kehidupan nyata. Baik-buruk semua tergantung kita memilih yang mana untuk dijadikan teladan.

Awkarin, lebih memilih (katanya) jadi diri sendiri. Ngomong kasar, ciuman, pelukan, ngerokok, dugem, alkohol, dan segala yang buruk dia lakukan atas nama ‘jadi diri sendiri’. Salah? Di mata kita, gue terutama yang juga ibu dari anak perempuan usia 6 tahun udah pasti nganggep dia salah. Standar emak2, ngapain sih lo ngerusak diri lo dan lo tunjukin ke banyak orang? Selain cuma ngasih citra buruk ke diri lo, apa yang lo lakuin sekarang akan berimbas besar ke kehidupan lo selanjutnya. Dan ya, Awkarin dengan bangganya bilang apa yang dilakuin karena dia suka, orang tuanya yang dokter spesialis mata ga ngelarang justru mendukung apa yang dia dan teman2nya tunjukkin di media sosial justru menghasilkan uang puluhan juta dalam seminggu.

Wow, lagi; gue juga pernah nakal. Bolos sekolah, kadang nilep duit buku, kuliah ga selese, sesekali dugem, pernah ngerokok, dan nyokap gue? Duh, kalo diinget2 gue nyesel pernah bikin nyokap sakit, nangis, kecewa, dan mohon ke gue supaya jangan bandel. Asli, gue pengen banget ketemu sama ibunya Awkarin yang setrong abis karena dari kegiatannya sehari2, kalimat yang keluar dari bibirnya yang 90% kata makian, ibunya masih tetap bangga. Meskipun yang terlihat, selain juara nasional dalam bidang akademis ketika SMP, ga ada lagi prestasi lain yang menonjol melainkan sensasi semata.

Erix Soekamti, gue yakin beliau juga pasti pernah nakal. Cuma mungkin bedanya, ketika di usianya yang sedang bandel2nya, pada saat itu belum ada internet. Kalaupun ada ya ga sepesat sekarang. Erix, di usianya yang tahun ini menginjak angka 36, juga sama memanfaatkan media sosial untuk berkreasi. Kegiatan band-nya semua didokumentasikan. Ga hanya itu, Erix juga ngerekam semua aktivitas sehari2 lewat vlog pribadinya yang dikasih nama DOES. Erix juga bertato, cuma bedanya dia lebih milih ngasih manfaat di setiap tayangan vlog-nya. Ga kehitung, berapa banyak anak muda usia SMP-SMA yang terinspirasi dari keseharian Erix di DOES (Diary Of Erix Soekamti), malah ada juga yang tau Erix anak band justru dari Youtube-nya dia.

Erix juga menjadi dirinya sendiri. Dengan kreativitasnya, dia selalu menekankan siapapun yang suka dengan musik atau vlog-nya, harus tetap jadi diri sendiri dan bertanggung jawab. Tiap kali beliau mengumumkan jadwal konser, tidak lupa pesan2 seperti jangan lupa pamit, harus tertib, jangan rusuh, dll beliau sematkan di postingannya.

Ini gue ga ngebandingin ya antara Awkarin dan Erix Soekamti karena ga akan apple to apple. Gue hanya ngambil contoh dari dua sosok yang sekarang ini lagi gue ikuti pemberitaannya via Youtube. 

Dua2nya ngasih gue pembelajaran. Sama2 ngasih hikmah, ketika gue liat video2 Awkarin, cukup gue aja yang nikmatin. Anak2 gue ga perlu liat. Gue belajar dari Awkarin bahwa, sesibuk apapun gue sebagai orang tua tetep harus punya waktu untuk anak. Sebanyak2nya materi, ga akan bisa ngebayar, nyamannya anak ketika kita peluk, dan mau dengerin semua ocehannya. Mungkin ini yang ga didapetin Karin, itulah kenapa dia lebih nyari kesenangan di luar bersama teman2nya dan selalu berusaha untuk jadi centre of attention. 

Pun, gue belajar banyak dari Erix. Ketika gue nonton vlog-nya, beberapa video gue nonton bareng sama anak gue. Apalagi sejak ada Does University (Erix bikin ‘sekolah’ untuk anak2 muda yang punya passion di dunia animasi. Di sini murid2 Does, diajar oleh beberapa guru/dosen tentang tekhnik animasi, dsb. Ga hanya itu, universitas ini gratis dan pembiayaannya dari jualan merchandise Endank Soekamti. Banyak juga yang akhirnya tergerak untuk jadi donatur karena spirit yang ditularkan Erix), gue makin getol ngasih tau ke anak gue, kalo nanti gede terserah dia mo jadi apa aja. Yang penting bisa jadi manfaat untuk dirinya sendiri maupun orang sekitar.

Anak gue makin excited, ketika gue tunjukin hampir semua video klip Endank Soekamti. Makin heboh lagi pas dikasih tau kalo Om Erix ini salah satu orang yang ada di dalam film animasi favoritnya “Adit, Sopo dan Jarwo”.

Anak gue penasaran pingin ketemu orangnya langsung. Hahaha… In the end, semua akan ngasih kita pembelajaran. Gue belajar banyak dari Awkarin, anak gue juga mendapat banyak manfaat dari postingan2 Erix. Anak gue jadi pingin belajar diving, suka nyanyi, dan yang paling mengejutkan, anak gue udah nonton episode Does terbaru. Dan dari anak, gue jadi tau kalo abis diving itu ga boleh naik pesawat selama minimal 12 jam. Kalopun harus naik pesawat di rentang waktu tersebut, kudu banyak mengkonsumsi oksigen. See? Ada pembelajaran di setiap tontonan yang sudah kita arahkan untuk anak.

Gue nge-banned gadget untuk anak. Kecuali atas seijin gue, dan itupun nontonnya harus bareng gue. Dan satu hp, dipakai berdua. Ga ada tuh gadget masing2 untuk kakak dan adik. Tv juga gitu. Cuma boleh nonton kartun. Dan tetep gue awasi. Ketika sehari udah dapet jatah 2jam, ya udah. Ga ada lagi perpanjangan waktu. Buat gue, shitnetron dsb-nya itu racun. Jadi anak gue juga ogah nontonnya. Kalo ada yang bahas soal acara tv selain kartun terutama serial tv, dia pasti nyeletuk ‘nonton kok acara racun’ hahahaha. Ga jarang juga anak gue nimbrung nonton pas lagi liat berita. Gapapa, kalo dia nanya tinggal dijawab aja. Kalo gue ga tau jawabannya tinggal googling. 

So parents, be wise dalam menyikapi tumbuh kembang anak kita. Biarin anak2 kita tetap jadi anak2, jangan terlalu dini mencekoki mereka dengan apa yang ada di isi kepala kita dan berambisi menjadikannya dewasa sebelum waktunya. Dampingi, agar anak2 kita tau mana porsi yang untuk dewasa, dan porsi mereka sebagai anak2. 

Jadi orang tua yang idealis di masa sekarang itu tantangan berat. Karena akan bersinggungan dengan pendapat orang yang ‘pakar’ dan seakan tau yang terbaik untuk anak kita. Gue milih untuk tetap idealis. Ngebesarin dan ngedidik anak dengan cara gue, selama orang2 yang komentar ga ikut ngeden pas gue mo lahiran, ga bayarin biaya bersalin gue, talk is cheap. Ngomong aja terus, dan gue akan tetap jalan dan ninggalin lo jauh di belakang. 😊😊😊

Advertisements

Author: titutismailblog

A wife. Full time mama for two marvelous kiddos; Adila Ashqa Azzahiyah and Adlan Alvito Semesta. Left handed. Rebeligious. Dessert!

30 thoughts on “Erix Soekamti dan Awkarin”

  1. kudos to you, mba! aku bukan fans Soekamti, tapi tertarik buat kasi liat DOES ke Ridho yg juga suka gambar2. dan Awkarin? well, influence nya dia dan vlogger muda lainnya udah mengakar ke generasi belasan skrg, semoga generasi anak2 ga ada lagi bentukan kaya dia πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

  2. Asli Does University ini keren bgt. Erik Soekamti nih bener2 ngasih kesempatan untuk remaja2 yg suka gambar berkreasi sebebas2nya. Aku ngikutin dari Does angkatan pertama, yang awalnya cuma belasan, does generasi kedua ini puluhan yang mau ikutan.

    Kerennya lagi, erik bisa ngeyakinin orang tua remaja2 yg mutusin ikut does dan dikarantina selama setahun, kalo ngasih kepercayaan ke anak itu ga salah, biarin anak berkembang sesuai passion-nya.
    Dan dia bener2 kerja keras nyariin dana utk ngehidupin 60an anak yg dia karantina.

    Kalo ga karena passion mustihil org mau ngelakuin itu.

    Like

  3. Ah. Titut aku selalu suka gaya bertuturmu. Yah, sama. Kelak kalai aku punya anak akan kubiarkan mereka memilih pekerjaan yang disuka tetap sih dalam koridor agama.
    Menjura

    Like

  4. Wah, Titut, lama sekali gak dengar kabarmu. πŸ˜€
    Ini artikel keren, terutama 3 paragraf terakhir. Menyebalkan ketemu teman2 yang malah diatur anak soal gadget dan TV karena “kalo gak dikasi nanti ngamuk/nangis”. Lah? πŸ˜†

    Like

  5. Ah, jadi pengen nonton endank Soekamti lagi😒

    Sekitar 2008-2010an dulu saya termasuk die hard endank Soekamti yang akhirnya memutuskan berhenti dan berganti menjadi fans jkt48. Sebagai perempuan, entah mengapa saya lumayan terinspirasi dengan member2 JKT48.

    Membaca tulisan mbak, bikin saya kangen hhh. Terakhir kali saya memantau endank Soekamti itu pas album Kolaborasoe keluar. Abis itu lost gak pernah nonton atau denger2 lagu mereka lagi.

    Duh jadi penasaran :’)

    Terima kasih untuk tulisannya mbak!

    Like

  6. Keren banget tulisannya kak. Diriku juga subscribe kedua channel mereka. Aku Lebih suka nonton Awkarin sih. Penasaran aja gaya hidup anak perkotaan itu kayak gimana. Ternyata seperti ituuuu.. *ngelus dada*

    Tapi Awkarin itu cerdas orangnya. Pinter bahasa Inggris juga. Selebihnya nakal. HAHAHA

    Like

  7. Tulisannya keren mbak, jadi terinspirasi cara didik anaknya deh nanti kalo udah jadi emak2 hehe
    Dan sebagai penikmat YouTube jadi pengen lihat DOES juga.

    Like

  8. pernah nonton acara berita di tipi bareng anak, ehhh nayanginnya berita perkosaan.. langsung dipindah aja channelnya.. belum siap menghadapi pertanyaan yang bakal muncul entar 😦

    Like

  9. Yup. setuju nih. Pengawasan anak dimulai dari yang terdekat, orang tua. dan orang tua yang asik adalah yang bisa jadi sahabat buat anaknya.

    btw, maen2 donk kak ke blog saya heheee. πŸ™‚
    enigmagenic.wordpress.com

    Like

  10. btw kak, saya pernah tetanggaan sama erix dulu waktu dijogja, kontrakan kita sebelahan. jadi lumayan sering ngobrol sama dia di burjo deket kontrakan (ngutang bareng juga haha).
    dari dulu dia emeng keren kak, dia aware banget sama anak-anak muda yang yg kreatif. saya gak nyangka dia bener2 ngewujudin cita2nya untuk anak2 muda kreatif itu, dan jadilah DOES University itu. Salute.

    Like

      1. Saya tinggal dibarat sekarang kak, kalimantan barat, pontianak (balik kandang nih) hehe.
        Kangen lah ke jogja lagi, secara 10thn disana.
        Jogja itu emang tempat pulang banget yaa.. πŸ™‚

        Like

  11. Yup, kuliah di Fisip Atmajaya.
    wadooww. jangan om kak. masih single tulen nih haha.
    Hmm. kalo makanan sih ada Cai kue, Amplang (semacam kerupuk ikan tenggiri), Lempok duren (semacam dodol gitu), Kue Bingke.
    lebih afdol sih maen sini kak, lumayan banyak lah kulinernyaaa..

    Like

  12. Teguh dan iklas untuk menjaga anak. karena anak adalah titpan yang Maha Kuasa jadi harus dijaga dan menjadikan titipan tersebut yang terbaik untuk sang penciptannya..ammiennn

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s